Peringatan Al-Quran

Kisah Nabi Yunus (AS)

( وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبًۭا )Wahai Rasul, ingatlah kisah Yunus bin Mata a.s. ketika diutus oleh Allah SWT kepada penduduk negeri Ninawa (masuk wilayah Mushil) yang dipimpin oleh seorang raja bernama Hazqiya. Lalu Yunus a.s. menyeru mereka kepada Allah SWT, mengesakan-Nya, dan mentaati-Nya. Namun, mereka menolak dan tetap berdegil di atas kekufuran. Kemudian Yunus a.s. pun pergi meninggalkan rumahnya dalam keadaan marah terhadap mereka serta mengancam mereka dengan azab.

Tatkala mereka menyedari bahwa ancaman Nabi Yunus a.s. adalah benar dan mereka tahu bahawa Yunus a.s. tidak berbohong, mereka pun pergi ke tengah sahara dengan membawa anak-anak dan binatang ternak mereka. Mereka memisahkan antara para ibu dan anak-anaknya. Kemudian mereka memohon dengan segala kerendahan hati kepada Allah SWT saat itu, unta dan anaknya, sapi dan anaknya, kambing dan anaknya, semuanya ikut bersuara dan berteriak-teriak. Allah SWT pun mengangkat azab yang ada dari mereka, sebagaimana firman-Nya dalam ayat:

Maksud:(Dengan kisah Firaun itu) maka ada baiknya kalau (penduduk) sesebuah negeri beriman (sebelum mereka ditimpa azab), supaya imannya itu mendatangkan manfaat menyelamatkannya. Hanya kaum Nabi Yunus sahaja yang telah berbuat demikian – ketika mereka beriman, Kami elakkan azab sengsara yang membawa kehinaan dalam kehidupan dunia dari menimpa mereka, dan Kami berikan mereka menikmati kesenangan sehingga ke suatu masa (yang Kami tentukan).”

(Yunus 10:98)

Adapun Nabi Yunus a.s., ia pergi dengan naik sebuah perahu bersama sejumlah orang. Lalu perahu itu tidak stabil dan mereka khuatir jika tenggelam. Mereka pun melakukan pengundian untuk menentukan siapa di antara mereka yang harus dicampakkan ke laut supaya muatan perahu menjadi ringan. Ternyata undian jatuh kepada Nabi Yunus a.s. sehingga mereka membatalkan hasil undian itu dan tidak ingin menbuangkannya ke laut. Lalu mereka melakukan pengundian lagi, tetapi undian tetap jatuh kepada Nabi Yunus a.s., sehingga mereka membatalkannya dan tidak ingin menjatuhkannya ke laut. Dan mereka mengulangi pengundian untuk yang ketiga kalinya, tetapi lagi-lagi undian jatuh kepada Nabi Yunus a.s., sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah SWT dalam ayat 

Maksud:“(Dengan satu keadaan yang memaksa) maka dia pun turut mengundi, lalu menjadilah ia dari orang-orang yang kalah yang digelunsurkan (ke laut).”

(As-Saffat 37:141)

Yakni undiannya jatuh kepada dirinya. Nabi Yunus a.s. pun berdiri, menanggalkan baju, dan terjun ke laut. Lalu Allah SWT mengirimkan seekor ikan paus yang berenang memecah lautan menuju kepada Nabi Yunus a.s. dan menelannya.(13 Tafsir Ibnu Katsir, 3/191)

Kata (وَذَا ٱلنُّونِ) ertinya adalah orang yang memiliki ikan paus. Dalam konteks inilah Nabi Yunus a.s. mendapat julukan Dzun Nuun. Kata maksudnya ( مُغَـٰضِبًۭا) adalah marah terhadap kaumnya kerana mereka mendustakannya dan azab yang ia ancamkan tidak jadi menimpa kaumnya kerana taubat yang tidak beliau ketahui, bukan kerana benci terhadap hukum Allah SWT atau marah kepada-Nya. Jika itu yang terjadi, ia telah melakukan dosa besar yang tidak sewajarnya dilakukan oleh orang biasa apalagi oleh seorang nabi. Jadi, ia marah atas nama Tuhannya, buktinya ia menyebut dirinya termasuk orang-orang yang zalim. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama.

(فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ) la mengira bahawa Kami tidak akan mempersempit dirinya di dalam perut ikan paus dan tidak akan menjatuhkan hukuman atasnya, dari akar kata yang artinya adalah ketentuan dan ketetapan, seperti dalam ayat

Maksud: “Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air (di sana sini), lalu bertemulah air (langit dan bumi) itu untuk (melakukan) satu perkara yang telah ditetapkan.”

(Al-Qamar 54:12)

Langkah yang ia ambil untuk pergi menyerupai tingkah orang yang melarikan diri.

(فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَـٰنَكَ) Lalu Nabi Yunus a.s. berdoa kepada Allah SWT di dalam kegelapan yang begitu pekat, atau di bawah tiga kegelapan; kegelapan perut ikan paus, kegelapan lautan, dan kegelapan malam, “Mahasuci Engkau ya Rabb, hanya Engkaulah Tuhan tiada sekutu bagi-Mu, Engkau berbuat apa saja yang Engkau kehendaki, dan menetapkan apa saja yang Engkau kehendaki. Tiada sesuatu pun baik di bumi maupun di langit yang berada di luar kuasa-Mu.

(سُبْحَـٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ) Sesungguhnya hamba termasuk orang-orang yang zalim dengan pergi tanpa ada perintah atau izin dari-Mu. Bagi para nabi tindakan seperti ini tergolong sebagai khilaaful aulaa (melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang lebih utama), dengan bukti ayat

Maksud: “Maka bersabarlah (wahai Muhammad) menerima hukum Tuhanmu (memberi tempoh kepada mereka), dan janganlah engkau bersikap seperti orang yang telah ditelan oleh ikan. (Ingatlah kisahnya) ketika ia berdoa merayu dengan keadaan sesak sebak terkurung dalam perut ikan.”

(Al-Qalam 68:48)

(فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ) Maka Kami perkenankan doanya yang mengekspresikan penyesalan dan taubat.

(وَنَجَّيْنَـٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُـۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ) Dan Kami keluarkan Yunus a.s. dari dalam perut ikan paus dan dari kegelapan-kegelapan itu. Sebagaimana Kami menyelamatkannya dari kesedihan dan kesulitan. Begitulah Kami selamatkan orang-orang Mukmin yang bersungguh-sungguh ketika memohon pertolongan kepada Kami dan meminta rahmat Kami.

Al-Baihaqi dan yang lainnya meriwayat- kan dari Sa’d Ibnu Abi Waqqash r.a., Rasulullah saw. bersabda yang maksudnya:

“Doa Dzun Nun (nabi Yunus a.s.) ketika ia berdoa pada saat berada dalam perut ikan paus, Laa ilaaha illaa Anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiina’ (tiada Tuhan melainkan Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya hamba termasuk orang-orang yang zalim). Maka, tidak ada seorang Muslim pun yang berdoa kepada Tuhannya dengan doa ini menyangkut suatu hal, melainkan Tuhan memperkenankan doanya itu.”

(HR Baihaqi)

Dalam doa ini, Dzun Nun mengawalinya dengan tauhid, kemudian tasbih dan pujian, kemudian istighfar dan pengakuan telah berbuat zalim (dosa) atas dirinya.

​​Rujukan: Tafsir Al-Munir, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili Jilid 9

Leave a comment

Blog at WordPress.com.

Up ↑