Peringatan Al-Quran

Tafsir Ringkas Surah al-Insyiqaaq Surah 84, Ayat 1-15

Allah SWT memberitakan ribut dan huru-hara hari Kiamat dan tanda-tandanya dengan firman-Nya,

“Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh.”

(Al- Insyiqaaq 84:1-2)

Apabila langit terbelah dan berkeping-keping yang menjadi tanda hancurnya alam semesta. Terbelahnya langit ini merupakan tanda-tanda telah datangnya hari Kiamat. Langit mematuhi dan tunduk kepada perintah Tuhannya dan memang tidak ada yang bisa ia lakukan selain menaati, tunduk dan mendengar perintah-Nya. Kerana Dia lah Rabb Yang Mahaagung, Sang Mahaperkasa yang tidak mungkin dapat dicegah dan dikalahkan. Dia Maha Menundukkan segala sesuatu. Segala sesuatu tunduk dan patuh kepada-Nya.

“Dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.”

(Al-Insyiqaaq 84: 3-4)

Apabila bumi telah dibentangkan, diratakan, dan diluaskan dengan hilangnya gunung-gunang dan lembah-lembahnya. Allah SWT meleburkannya hingga menjadi lembah yang datar. Kemudian bumi mengeluarkan isi-isinya berupa orang-orang yang telah meninggal dunia serta isi-isi lombong yang ada di dalam perutnya. Bumi melempar keluar semua itu ke permukaannya sehingga ia benar-benar kosong dari semua itu, lalu ia berlepas diri kepada Allah dari semua manusia yang ada padanya dan berlepas diri dari segala perbuatan mereka.

Ayat yang serupa dengan ayat ini adalah firman Allah,

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, ‘Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya, kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu rata sama sekali, (sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi di sana.””

(Taha 20:105-107)

“Dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh.”

(Al-Insyiqaaq 84:5)

Ia mendengar dan mentaati titah Tuhannya, dan tidak ada pilihan lain baginya selain berserah diri dan mematuhi segala perintah Tuhannya. Kerana ia sendiri berada di genggaman kekuasaan Tuhan. Jawab (إِذَا) dihilangkan (mahdzuf) untuk menunjukkan kepada manusia makna ketegangan yang tiada tara. Taqdiir kalimatnya adalah Apabila terjadi apa yang terjadi, kalian akan melihat segala amalan baik dan buruk yang telah kalian lakukan.

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.”

(Al-Insyiqaaq 84:6)

Wahai sekalian manusia. Yang dimaksud di sini adalah jenis manusia secara umum yang meliputi manusia yang beriman dan kafir. Sesungguhnya engkau telah berusaha dengan segala daya upayamu dan bersungguh-sungguh beramal di dalam kehidupan ini. Dan akhir dari semua usahamu itu adalah kembali kepada Tuhanmu atau kembali kepada-Nya melalui kematian. Dan engkau pasti akan menemukan ganjaran perbuatanmu, baik maupun buruk. Atau engkau pasti akan bertemu Tuhanmu dengan amalanmu. Al-Kadhu artinya adalah usaha keras dalam beramal sampai berbekas.

Abu Dawud ath-Thayaaliisi meriwayatkan, dari Jabir bin Abdullah r.a. bahawa ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Jibril berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sekehendakmu, tetapi kau pasti akan mati, cintailah apa pun yang kau inginkan, tapi kau pasti akan berpisah dengannya, beramallah sekehendakmu, tapi kau pasti akan menemukan balasannya.”

Firman Allah, (فَمُلَـٰقِيهِ) dhamiir yang ada (هـ), kembali kepada amal perbuatan baik atau buruk. Pendapat lain menyebutkan bahawa dhamir tersebut kembali kepada firman-Nya ( رَبِّكَ), yakni engkau pasti akan bertemu dengan Tuhanmu. Ertinya, Dia akan membalas segala perbuatan yang telah engkau lakukan.

Kemudian, Allah SWT menyebutkan keadaan manusia dan terbaginya mereka menjadi dua golongan pada hari Kiamat. Golongan pertama yaitu orang yang beriman,

“Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.”

(Al-Insyiqaaq 84:7-9)

Adapun orang yang diberikan kitab catatan amal perbuatannya dengan tangan kanannya, dan mereka itu adalah orang-orang yang beriman. Mereka akan dihisab dengan hisab yang ringan, yaitu dengan memampangkan segala keburukannya, kemudian Allah SWT mengampuninya, tanpa mempersoalkannya. Itulah yang disebut dengan al-hisaab al-yasiir (perhitungan yang ringan).

Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah r.a., ia berkata, Rasulullah saw bersabda yanga maksudnya: “Barangsiapa yang dalam hisabnya amalannya dipertanyakan maka ia akan diadzab.” Aisyah berkata, “Aku bertanya, bukanlah Allah SWT berfirman yang ertinya, “Maka ia akan dihisab dengan hisab yang ringan”? Beliau menjawab, “Bukan itu maksudnya, yang dimaksudkan adalah ardh (paparan amal perbuatan), tetapi barangsiapa yang dalam hisabnya dipersoalkan pada hari Kiamat nanti, maka ia akan diadzab.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad) 

Orang yang diberikan kitab catatan amalnya dari tangan kanannya ini akan dihisab dengan hisab yang ringan yaitu dengan dipampangkannya amal perbuatannya. Setelah itu ia kembali kepada kelurganya dengan perasaan riang gembira, berkat kebaikan dan kemuliaan yang Allah anugerahkan kepadanya.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Tsauban yang pernah dimerdekakan oleh Rasulullah saw, bahawa beliau bersabda yang bermaksud: “Sungguh kalian melakukan amalan-amalan yang tidak diketahui, sehingga hampir seseorang kembali kepada keluarganya dalam keadaan gembira ataupun bersedih.” (HR Thabrani)

Yang semisal dengan ayat-ayat di atas adalah firman-Nya,

“Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, ‘Ambillah, bacalah kitabku (ini).’ Sesungguhnya aku yakin, bahawa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diredhai.”

(Al-Haaqqah 69:19-21) 

Golongan yang kedua yaitu orang-orang kafir.

“Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang, maka dia akan berteriak, ‘Celakalah aku!’ Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”

(Al-Insyiqaaq 84:10-12)

Adapun orang yang diberikan kitab catatan amalannya dengan tangan kirinya dari belakang punggung kerena tangan kirinya diikat ke belakang punggungnya, kemudian kitabnya diberikan dengannya, sementara tangan kanannya dirantai dengan lehernya. Ketika ia membaca kitabnya, ia berteriak, “Betapa merugi dan celakanya diriku!” Kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka dan merasakan kedahsyatan panasnya.

Ayat yang serupa dengan ayat di atas adalah firman Allah,

“Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, ‘Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitungan. Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.””

(Al-Haaqqah 69:25-29)

Kemudian Allah SWT menyebutkan dua penyebab adzab-Nya:

1. “Sungguh, dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir).”

(Al-Insyiqaaq 84:13)

Kerana ia di dunia hanya hidup bersenang-senang, tidak memikirkan akibat dari apa yang ia perbuat, tidak takut pada apa yang ada di masa depannya. Ia hanya mengikuti hawa nafsunya dan mengendalikan syahwatnya dengan sombong dan bangga kerana tidak ada peringatan bahaya akhirat di dalam dirinya. Akhirnya, kesenangan yang sebentar itu mengakibatkan kesedihan yang tiada akhir.

2. “Sesungguhnya dia mengira bahawa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya).”

(Al-Insyiqaaq 84:14)

Sebab keterpedayaan dan ketakaburannya itu adalah kerana ia mengira bahwa ia tidak akan dikembalikan kepada Allah dan tidak akan dibangkitkan untuk dihisab dan dihukum serta tidak akan dibangkitkan kembali setelah mati. Kemudian, Allah SWT membantah prasangkanya dengan berfirman,

“Tidak demikian, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.”

(Al-Insyiqaaq 84:15)

Bahkan ia akan kembali dan dikembalikan kepada Tuhannya. Allah akan mengembalikan wujudnya sebagaimana Dia memulainya. Kemudian, Dia akan membalas segala perbuatannya yang baik maupun yang buruk kerana Dia Maha Mengetahui tentang dirinya dan perbuatannya. Tiada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah SWT.

Dalam hal ini terdapat isyarat bahwa pasti ada alam kehidupan sebagai tempat pembalasan segala amal selain alam kehidupan tempat manusia dibebankan oleh perintah agama. Kerana hal ini adalah akibat dari sifat ilmu Allah Yang Mahasempurna, Kemahakuasaan dan Kebijaksanaan-Nya.

Sumber: Tafsir Al-Munir Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili Jilid 15

Leave a comment

Blog at WordPress.com.

Up ↑